Home > Bisnis

Setelah Evergrande, Satu Lagi Raksasa Real Estate China yang Bisa Menyusul Bangkrut

Kini sebagian besar investor mengalihkan perhatiannya ke Country Garden, raksasa real estate China lainnya yang berada di ambang kehancuran.
Setelah Evergrande, Pengembang Real Estate China Ini Berpotensi Menyusul Bangkrut. (ilustrasi/dok. republika.co.id)
Setelah Evergrande, Pengembang Real Estate China Ini Berpotensi Menyusul Bangkrut. (ilustrasi/dok. republika.co.id)

GenpOp.id -- Harga saham Evergrande anjlok lebih dari 20 persen pada hari Senin 29 Januari 2024 di Hong Kong. Harga saham perusahaan anjlok setelah pengadilan di Hong Kong memerintahkan perusahaan tersebut untuk dilikuidasi.

Keputusan ini menandai jatuhnya salah satu perusahaan real estate terbesar di dunia. Namun pertanyaan selanjutnya, perusahaan mana lagi yang akan menyusulnya?

Runtuhnya Evergrande tidaklah sulit diprediksi jika melihat liabilitasnya yang besar dan melemahnya pasar real estat di China.

Langkah selanjutnya dalam proses ini adalah perusahaan akan dikelola oleh administrator eksternal yang akan berupaya menjual aset untuk membayar kreditornya.

Runtuhnya Evergrande menandai kejatuhan besar perusahaan yang telah lama mendominasi pasar real estat China. Di masa jayanya, Evergrande adalah perusahaan 3 teratas berdasarkan proyek, pendapatan, dan bahkan keuntungan.

Namun Evergrande juga memiliki segudang utang dan kewajiban. Secara keseluruhan, total liabilitas perusahaan berjumlah lebih dari 333 miliar dolar AS atau sekitar Rp 5.200 triliun.

Jumlah tersebut merupakan setengah dari 619 miliar dolar AS yang dimiliki Lehman Brothers ketika perusahaan tersebut terpuruk akibat Krisis Keuangan Global.

Country Garden di Ambang Keruntuhan

Kini, sebagian besar investor mengalihkan perhatiannya ke Country Garden, salah satu pemain top real estate di China. Tapi sekarang ada di ambang kehancuran.

Saham perusahaan tersebut anjlok lebih dari 94 persen dari titik tertingginya pada tahun 2020.

Karena itu, sejatinya Country Garden berada dalam situasi yang serupa dengan Evergrande sebelum keruntuhannya. Penjualan real estat Country Garden anjlok dan kerugiannya membengkak.

Country Garden diperkirakan rugi 7 miliar dolar AS pada paruh pertama tahun 2023.

Utang Rp 3.150 triliun

Country Garden juga memiliki utang segunung, yang diperkirakan mencapai 200 miliar dolar AS atau sekitar Rp 3.150 triliun. Perusahaan gagal bayar pada beberapa pembayaran obligasi baru-baru ini.

Lantas apakah Country Garden juga akan dilikuidasi dalam beberapa bulan mendatang?

Besar kemungkinan, Country Garden akan mengalami hal yang serupa dengan Evergrande, yakni dilikuidasi alias kolaps.

Country Garden Rugi Besar

Karena Country Garden punya beban yang besar, penjualan yang lemah, dan kerugian yang besar.

Selain itu, perusahaan tersebut telah gagal membayar utangnya dan telah diturunkan peringkatnya oleh lembaga pemeringkat utama seperti Moody’s dan S&P Global.

Adakah Jalan Keluar?

Perusahaan yang berada dalam situasi seperti ini mempunyai beberapa pilihan. Dalam kebanyakan kasus, perusahaan dapat menjual aset dalam upaya untuk meningkatkan modal.

Dalam situasi Country Garden, mereka telah menjual salah satu malnya dengan kesepakatan senilai 420 juta dolar AS dan menggunakan dana ini untuk membayar sebagian utangnya.

Tantangannya adalah jumlah utang yang terhutang sangat tinggi sehingga penjualan aset mungkin tidak cukup.

Pilihan lainnya adalah pemerintah China memberikan dana talangan kepada perusahaan tersebut. Untuk saat ini, Beijing gagal melakukan hal tersebut.

Justru sebaliknya, pemerintah melakukan intervensi di pasar dengan mengurangi biaya pinjaman dan pajak. Beijing juga membuat daftar perusahaan yang penting secara sistemik.

Berdasarkan hal tersebut, kemungkinan besar Country Garden akan dilikuidasi dalam beberapa bulan atau tahun ke depan. Artinya, akan bernasib sama dengan Evergrande.

× Image