Home > Umum

Dimensi Mistik Lukisan Mata Hitam Sang Maestro Jeihan Sukmantoro

Dilukis oleh Basoeki Abdullah, jadinya cantik. Dan jika dilukis Jeihan Sukmantoro, mistik jadinya.
Lukisan
Lukisan "Ratu Laut Nusantara (Ibu Ratu Laut Kidul)" karya Sang Maestro Jeihan Sukmantoro. (dok. pribadi)

GenpOp. -- Dilukis oleh Basoeki Abdullah, jadinya cantik. Dan jika dilukis Jeihan Sukmantoro, mistik jadinya. Begitulah kira-kira yang diungkapkan oleh Pengamat Seni Rupa Mikke Susanto, Oktober 2015 silam.

Kali ini bukan lukisan Basoeki Abdullah (almarhum) yang dibahas, melainkan Jeihan Sukmantoro (almarhum). Jeihan dikenal dengan lukisan Mata Hitam, lukisan dengan ciri khas frontal dan goresan hitam pada mata.

Lukisan Mata Hitam Jeihan Sukmantoro, dimulai dari lukisan sosok berkaos oblong warna putih dan sarung, dengan latar yang didominasi warna kuning. Judul lukisan tersebut ialah "Aku".

Mikke menjelaskan, lukisan yang dibuat pada 1963 itu, memang sudah menggunakan ciri Mata Hitam. Namun, interpretasi yang ditimbulkan dari ciri Mata Hitam di lukisan itu tidak dominan.

Mikke tahu betul, lukisan "Aku" dibuat di sebuah studio di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB).

Latar sejarah ketika lukisan tersebut tercipta yakni disertai gerakan anti-China di kampus ITB saat itu. Peristiwa ini menjadi cambuk bahwa manusia gelap mata dalam memandang persoalan.

"Peristiwa gerakan anti-China itu membuat beliau (Jeihan) tahu betul harus membela siapa dan bagaimana seharusnya," kata Mikke.

Selain itu, sederet peristiwa yang terjadi pada 1965 itu memang amat penting di negeri ini. Sebab, ketika itu, deretan peristiwa negara sudah tidak bisa diutarakan lagi dengan kata-kata.

"Jadi Mata Hitam itu juga disertai apa yang terjadi di luar proses kreatif," terang Mikke.

Barulah, pada lukisan berikutnya, "Gadis", yang dibuat pada 1965, ciri Mata Hitamnya tampak begitu kuat. Warna merah kecoklatan tampak sangat dominan pada wajah gadis yang menjadi objek lukisan itu.

Warna hitam pada mata gadis ini pun amat terlihat jelas. Lukisan ini pulalah, yang menjadi tonggak kemunculan Mata Hitam.

Jeihan sempat mengaku kepada Mikke, bahwa dia memang kurang bagus ketika menggambar lukisan yang realis. Jeihan tidak menemukan kecocokan ketika melukis realis. Ia lebih cocok atau merasa kena saat melukis dengan Mata Hitamnya.

"Pak Jeihan sempat mengakui kalau gambar realis itu enggak benar-benar bagus, enggak pernah merasa ketemu dengan itu. Tapi dengan Mata Hitamnya malah ketemu," kata Mikke.

Terbentuknya Mata Hitam, mata yang dibentuk dengan pewarnaan hitam sederhana pada objek lukisan Jeihan, tidak serta-merta muncul begitu saja. Semuanya terjadi lewat pergulatan Jeihan memulai proses kreatifnya di kampus ITB.

Saat itu dia selalu melukis dengan aliran realis. Namun, karya-karya realisnya tidak memberi kepuasan. "Enggak kena gitu, enggak pas, enggak dapat," kata Jeihan mengungkapkan apa yang dirasakan ketika melukis realis.

Saat itulah, ia langsung menggoreskan cat warna hitam untuk membentuk mata. "Nah, pas bikin begini kok jadi dapat, ngena."

Ternyata dengan goresan hitam membuat lukisan Jeihan menjadi multitafsir. Kalangan kritikus menyebut banyak simbol yang tercipta dari karya Mata Hitamnya.

Lepas dari itu, Mata Hitam telah memberi kepuasan batin bagi seorang Jeihan. Sejak 1965 itulah, ia terus menciptakan berbagai Mata Hitam yang lain.

Dalam kurun waktu itu, bukan berarti Jeihan tidak pernah mendapat kritik. Dia kerap dianggap sebagai pelukis yang tidak mampu menciptakan bentuk mata yang realis.

Untuk membantah kritik ini, Jeihan pun membuat dua lukisan yang bentuk matanya realis (katanya, lukisan Jeihan yang realis hanya dua ini).

Dua orang yang dijadikan objek lukisannya, adalah Sutardji Calzoum Bachri, penyair kondang asal Riau, dan ayah kandung Jeihan sendiri. "Ini untuk membuktikan saja," tandas Jeihan.

Di usianya yang ke-77 tepat pada 26 September 2015, Jeihan merasa sudah puas dengan apa yang dimilikinya saat ini. Lukisannya banyak yang terjual dengan harga selangit. Kolektor pun selalu memburu karya-karyanya.

"Saya ini sebenarnya sudah selesai, masanya sudah selesai. Ini mungkin sudah puncak mortalitas saya," tutur Jeihan bicara kiprahnya.

Tapi, bukan berarti Jeihan tidak akan melukis lagi. Jeihan bilang, selama masih bernafas, ia akan terus membuahkan karya-karya lukisnya. "Itu (melukis) nafas saya, selama saya bernafas, saya berkarya," ujarnya. []

*Ditulis pada Oktober 2015

× Image